Senin, 08 Juli 2013

FENOMENA BAHASA DAERAH


Indonesia memiliki lebih dari 746 bahasa daerah yang digunakan di seluruh pulau di Indonesia. (Kepala Pusat Bahasa Depdiknas, Dr Dendy Sugondo di Jakarta, Kongres Bahasa Indonesia IX 2008). Bahasa daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional yang harus dijaga dan dilestarikan. Tapi apakah anak-anak muda sekarang peduli terhadap bahasa daerah? Berikut beberapa potret gambaran keadaan bahasa daerah masa ini.

Seringkali kita mendengar percakapan:
“Ah..untung banget Pelajaran Bahasa Sunda cuman sampe SD, waktu SD aja nilai paling jelek”.
“Wah hebat anak-anak Playgroup sekarang bicaranya bahasa Inggris semua”

Dua percakapan di atas menggambarkan bahwa Bahasa Daerah dalam hal ini Bahasa Sunda dilihat sebagai bahasa yang sulit dan tidak diutamakan. Hal ini dikarenakan desakan kebutuhan pemakaian bahasa nasional dan bahasa asing.  Banyak orang tua yang membudayakan bahasa asing kepada anaknya sejak dini dan mengesampingkan budaya bahasa daerah sendiri. Bahasa Sunda yang sering kita sebut “Bahasa Indung” memiliki arti bahasa yang seharusnya dibudayakan dan dibiasakan penggunaanya di lingkungan keluarga, sehingga seharusnya tidak ada kekhawatiran mengenai kepunahan Bahasa Sunda. Sehingga sesungguhnya kewajiban melestarikan bahasa daerah bukanlah bergantung pada kurikulum sekolah, tetapi pada kebiasaan membudayakan bahasa daerah di lingkungan keluarga. Itulah tantangan kepunahan bahasa daerah kita agar mata rantai bahasa daerah tidak terputus.

Fenomena lainya yang saya tangkap adalah seringkali saya bertemu dengan teman-teman yang berasal dari daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur selalu menggunakan bahasa daerah mereka, yaitu Bahasa Jawa sebagai bahasa mereka saat bertemu teman sekampung mereka. Tapi fenomena ini jarang sekali terjadi pada teman-teman suku Sunda.

Banyak saya mendengar alasan dari beberapa teman Sunda yang tidak menggunakan bahasa sunda dikarenakan mereka “takut salah” saat menggunakan bahasa sunda. Terkadang jika dipikir Bahasa Sunda itu agak rumit untuk diaplikasikan, menurut hemat saya bahasa sunda itu memang sudah dipetakan menjadi 3 tingkat: Bahasa untuk yang lebih tua, setingkat, dan dibawah kita. Tetapi pada kenyataanya terdapat 2 tingkat yaitu: sunda lemes (halus) dan sunda kasar. Dimana beberapa orang kesulitan menggunakan sunda Halus dan segan menggunakan sunda kasar untuk berbincang sehari-hari. Alhasil mereka tidak menggunakan bahasa sunda. Istilahnya “kagok”.

Indonesia yang kaya akan keanekaragaman bahasa ini melindungi hak hidup bahasa-bahasanya melalui konstitusi negara. Dalam UUD Dasar 1945 Pasal 32 dan 36 dijelaskan bahwa (1) negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya dan (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Dengan demikian, bahasa daerah memiliki kedudukan yang sangat penting. Bahasa daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional. Oleh karena itu, bahasa daerah wajib dipelihara oleh negara. Pemeliharaanya diserahkan kepada pemerintah daerah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Otonomi Daerah Tahun 1999, Pasal 11. (Cece Sobarna, 2007). Secara legal bahasa kita sudah dilindungi, tapi apalah artinya jika kita sendiri tidak melindungi bahasa daerah. Bahasa daerah kita yang punya, kita yang jaga.

Fenomena kehilangan jati diri daerah tidak memang seringkali menjadi focus beberapa pemerhati kebudayaan, termasuk saya kaum awam. Bahasa menjadi salah satu tolak ukur tergerusnya jati diri daerah oleh pengaruh budaya luar. Disadari atau tidak kadang kita ikut andil didalamnya. Tapi dengan setitik kepedulian, bisa berdampak banyak. Itulah fungsinya kita kaum muda untuk tetap menjaga kelestarian budaha termasuk bahasa daerah. Its seems a little things but can make a huge things. Satu perbuatan lebih berharga daripada seribu ucapan. Mulailah membiasakan diri peduli terhadap budaya bangsa.
Bahasa daerah itu warisan nenek moyang sekaligus titipan anak cucu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari ke-10: Husna Sang Story Teller become a presenter

Hari ini Bapak Azhari datang karena waktunya off kerja dan akan mejemput kami untuk pindah ke Bandar Lampung. Husna sejak lama ingin sekali ...