Minggu, 09 Februari 2020

Charity vs Filantropi (Pengikat Makna Sejuta Cinta Ibu Profesional)

Assalamualaikum.

Tak terasa telah masuk kedalam pekan kedua materi di kegiatan Habituasi Sejuta Cinta Ibu Profesional. Topik yang dibahas pun begitu sangat menggugah, terlebih karena saya memang sudah sangat tertarik dengan dunia "berbagi" sejak saya kecil. Kali ini saatnya kami mengikat makna dari materi yang telah disampaikan.

Indonesia sebagai negara PALING DERMAWAN sedunia

Menurut Amal Inggris (Charity Aids Foundation), Indonesia terpilih menjadi negara paling dermawah di dunia, yaitu satu dari 146 negara lain yang di survey.

Data dari World giving index (2018)
Ukuran "dermawan"yang diukur diantaranya:
- Donasi uang
- Partisipasi sebagai relawan
- Kesediaan membantu orang asing




Charity vs Filantropi.
Beberapa materi yang disampaikan memang secara konsep tidak terlalu asing bagi saya pribadi, karena saat bekerja dulu saya sempat berkecimpung di bidang CSR (Corporate Social Responsibility). Saya memahami adanya perbedaan antara kegiatan yang bersifat charity dan pengembangan masyarakat. Lalu bagaimana definisi charity dan filantropi berdasarkan materi yang saya dapatkan di habituasi Sejuta Cinta IP?

Perbedaan utama yang menonjol adalah charity bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dari masalah sosial tertentu, sedangkan  filantropi mengatasi sumber masalah dari akarnya.

Berdasarkan yang saya fahami juga ada penggunaan istlah "memberi ikan" untuk kegiatan charity dan "memberi kail" untuk kegiatan yang sifatnya filantropi.

Lembaga Sosial
Kurang lebih dalam satu bulan ini, saya bekerja sama dengan sebuah lembaga sosial profesional sebagai pengemban amanat donasi dari hasil usaha saya. Lembaga tersebut adalah ACT (Aksi Cepat Tanggap) Tasikmalaya.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) merupakan lembaga kemanusiaan yang berdiri pada Tanggal 21 April 2005, dengan perwakilan kantor cabang di Tasikmalaya yang berdiri pada 05 November 2018.
lembaga kemanusiaan global dan professional ini berjalan diatas 3 pilar yaitu Humanity, Philantrhopy dan volunterism. Untuk memperluas karya, ACT mengembangkan aktivitasnya, mulai dari kegiatan tanggap darurat, kemudian mengembangkan kegiatannya ke program pemulihan pascabencana, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, serta program berbasis spiritual seperti Qurban, Zakat dan Wakaf yang capaian implementasinya mencakup program Global, Nasional dan Lokal.

Berikut akan saya bahas beberapa program yang telah dilakukan ACT Tasikmalaya yang dapat saya amati


  • ACT Kemanusiaan

 Memiliki beberapa program diantaranya:
 - Program internasional dalam naungan SKDI (Seputar Kemanusiaan Dunia Islam), seperti ke Palestina dan Uyghur.
- Program nasional BERISI (Beras Untuk Santri Indonesia) : pemberian beras untuk para santri yang sedang menuntut ilmu
- Program nasional SGI (Sahabat Guru Indonesia): pemberian santunan kepada guru yang kafalahnya jauh dari kelayakan. Program ini diawali dengan assessment kafalah, kondisi ekonomi dan masa pengabdian guru.
- Program penanggulangan bencana
- Program lokal pembangunan mesjid
- Program lokal pembangunan rumah
- Distribusi pakaian dan hijab syari
- Program lokal pendampingan kesehatan: dimulai dengan adanya assessment kepada calon penerima manfaat, lalu proses pengumpulan dana, hingga proses pendampingan oleh relawan saat proses pengobatan.
  • Global Zakat
  • Global Wakaf
  • Global Qurban
  • Humanity Food Truck  ; merupakan suatu program dimana akan ada mobil khusus yang dipakai untuk memasak dan hasil makananya akan didistribusikan. Sasaran dari program ini adalah pemulung, petugas sampah, dan saudara-saudara yang dianggap layak.
  • Pelatihan-pelatihan, contoh: pelatihan manajemen mesjid

Berdasarkan pemahaman terhadap materi kedua, maka saya menyimpulan bahwa ACT Tasikmalaya dalam program-programnya mencakup dua jenis kegiatan yaitu charity dan filantropi.

Beberapa kegiatan seperti Humanity Food Truck dan program SGI termasuk ke dalam kategori charity dimana sifatnya jangka pendek, dampak terbatas, pemberian sifatnya langsung.

Sedangkan beberapa kegiatan seperti pembangunan mesjid, pelatihan manajemen mesjid, global wakaf termasuk ke dalam kategori filantropi karena sifatnya jangka panjang dan berkelanjutan, dampaknya luas, proses pemberian terukur dan terorganisir.

Dokumentasi kegiatan ACT Tasikmalaya







Beberapa hal yang dapat saya ambil pelajaran dari pengamatan dan wawancara bersama Tim ACT Tasikmalaya diantaranya:
1. Kebaikan yang terorganisir dengan baik dapat membawa kebermanfaatan yang lebih luas.
Saya mengingat ucapan salah satu khalifah yaitu Ali bin Abi Tahlib:
"Kebenaran yang tidak terorganisir akan terkalahkan oleh kebatilan yang terorganisir"
Maka saya yakin pengaturan/organisasi secara profesional seperti yang dilakukan ACT Tasikmalaya sangat dibutuhkan.

2. Dalam pelaksanaan aksi sosial baik berbentuk charity atau filantropi, assessment yang baik harus dilakukan untuk memastikan tepat sasaran dan efektif.

3. Baik charity maupun filantropi dapat secara bersamaan dilakukan tergantung dari kebutuhan variabel waktu dan penerima manfaat.

Menutup Pengikat Makna kali ini dengan pesan yang disampaikan Mba Mumun (Ketua Sejuta Cinta Ibu Pofesional):

Sumbangan adalah [bukan] tentang berapa yang kamu donasikan, namun kedermawanan [filantropi] pada esensinya adalah waktu, aksi, dan hati yang diberikan seseorang untuk kebaikan dengan ketulusan serta empati dalam dirinya.

#materi2
#empati
#charity
#filantropi
#HabituasiSejutaCinta
#SejutaCinta
#IbuProfesional
@sejutacintaibuprofesional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari ke-10: Husna Sang Story Teller become a presenter

Hari ini Bapak Azhari datang karena waktunya off kerja dan akan mejemput kami untuk pindah ke Bandar Lampung. Husna sejak lama ingin sekali ...